Bismillah

salju

Sabtu, 09 April 2011

Bagaimana Mengatasi Rasa Malas, Jenuh dan Futur Dalam Berinteraksi Dengan Al Qur’an

Rasa malas, jenuh dan futur adalah sifat yang manusiawi dan wajar bagi setiap manusia. Hampir setiap mukmin yang ingin memiliki interaksi yang baik dengan Al Qur’an sering merasakan problem ini, bahkan bisa jadi sepanjang hidupnya. Adanya perasaan ini sejalan dengan tabiat kehidupan itu sendiri, yang dijadikan oleh Allah sebagai ujian bagi manusia. Perasaan-perasaan di atas adalah suatu tantangan yang harus dilalui sebelum manusia sampai pada kematian. Dengan demikian akan terlihat siapa yang berhasil dan gagal dalam menaklukan tantangan kehidupan yang sangat sebentar ini.



Jadi yang tidak wajar adalah ketika kita menyerah dalam menghadapi kondisi seperti ini, tunduk terhadap apa yang diinginkan oleh nafsu kita, atau pasrah menunggu perasaan itu hilang dengan sendirinya. Padahal kita tidak pernah tahu kapan dia akan pergi dari diri kita. Seminggu, sebulan atau sepanjang hidup kita.

Yang harus disadari dalam memahami hakikat perasaan ini adalah bahwa hakikat kehidupan adalah perjuangan. Beruntunglah orang yang kehidupannya dihabiskan dalam rangka mengatasi pahitnya rasa malas dan futur. Begitu besarnya bahaya malas dan futur ini, sampai-sampai Rasulullah setiap hari berdo’a, “ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketidakberdayaan dan rasa malas”.

Rasa malas adalah kondisi kejiwaan yang sedang bermasalah; baik karena lelah ataupun jenuh. Sama seperti fisik yang juga merasakan lelah dan bosan, walaupun mengatasi kelelahan fisik jauh lebih mudah daripada mengatasi kelelahan jiwa.

Karena itu, kita harus mengetahui penyebab rasa malas dan futur dalam diri kita dan tahu cara menanganinya.

1. Rasa malas dan futur karena kelemahan jiwa, sementara yg akan kita lakukan sangat membutuhkan kekuatan ruhiyah. Ketidakseimbangan seperti ini kerap membuat jiwa kita tidak siap menghadapi Al Qur’an. Jangankan untuk membacanya, sekedar membuka mushaf saja kita tidak siap. Jiwa yang lemah bisa disebabkan karena melemahnya iman, sedangkan iman yang lemah disebabkan sangat sedikitnya ketaatan kepada Alloh atau banyaknya maksiat yang dilakukan. Jika kita mengalami kondisi seperti ini, maka solusinya sangat mudah. Tingkatkan keimanan dengan memperbanyak amal salih dan istighfar. Alloh SWT berfirman “ Mintalah ampun kepada Rabb kalian dan kembalilah kepada-Nya, niscaya Alloh menurunkan hujan yang deras dan menambah suatu kekuatan pada kekuatan yang ada pada kalian”. (Qs. 11:52).

2. Rasa malas dan futur karena kondisi yang sangat monoton. Terus berulang dan berulang yang sama. Maka sangat wajar bila jiwa tiba-tiba kehilangan semangat untuk berinteraksi dengan Al Qur’an. Solusinya ciptakan situasi dan suasana yang baru. Malas seperti ini hanyalah karena kejenuhan dengan lingkungan yang biasa bersama kita. Rasulullah bersabda, “Rowwihul Qulub, hiburlah hati kalian”. Menghibur diri dapat dilakukan dengan kegiatan2 yang mubah, seperti rihlah, hiburan2 yang diizinkan Islam. Yang penting adalah jangan sampai berlebih-lebihan dan tenggelam dalam hiburan., karena tidak mustahil saat kita melakukan kegiatan mubah atas nama Tarwihul Qulub, saat itu syetan berusaha menenggelamkan kita dalam mubahat. Akhirnya kita tidak tertarik lagi dengan Al Qur’an.

3. Rasa malas dan futur karena beban kehidupan yang sangat berat. Ini terjadi karena terpecahnya konsentrasi kita dalam menjalani kehidupan. Solusinya, amal solih yg banyak sesungguhnya akan mendatangkan pertolongan Alloh untuk menyelesaikan semua problem kita. Semakin kita dekat dengan Alloh semakin kuat ruhiyyah kita untuk menerima beban masalah yang kita pikul.. Yakinlah dengan janji Alloh. “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Alloh, maka Alloh akan menjadikan solusi dari semua problem hidupnya dan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga. (Qs. 65:2-3)

Dari ketiga hal tersebut, ada hal yang harus diperhatikan dalam menjaga semangat berinteraksi dengan Al Qur’an :
1. Kejujuran niat kita kepada Alloh,
bahwa kita benar-benar ingin berinteraksi dengan Al Qur’an, sehingga akan selalu ada jalan dalam mengalami kesulitan jika kemauan itu memang kuat.

2. Keseriusan dalam berdo’a
Sikap ini adalah lambang ketawadhuan kita kepada Alloh, bahwa sesungguhnya kita adalah makhluk yang tidak berharga tanpa pertolongan Alloh, sekaligus kita akan terjaga dari sikap ghurur (bangga diri) dalam beramal, khususnya berinteraksi dengan Al Qur’an.

3. Meningkatkan ukhuwah dengan saudara-saudara kita yang memiliki cita-cita yang sama, ikhuwah yang diwarnai rasa cinta, hati yang bersih, selalu mengutamakan kepentingan saudaranya dan saling mendo’akan diantara kita, sehingga tercipta ‘amal jam’ai (kebersamaan) yang hidup.

Ehm…alangkah indahnya ketika rasa malas dan futur itu sirna dari diri kita, apalagi sesaat lagi kita akan menghadapai bulan Ramadhan, bulan diturunkannya Al Quran dimana intensitas kita dengan Al Qur;an harus lebih ditingkatkan lagi. Mudah-mudahan Alloh memberikan kita keistiqomahan dalam berinteraksi dengan Al Qur’an ini dan menjadikan kita generasi-generasi Qurani. Amin.

Sumber : Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah / Al Hafidz Ust. Abd. Aziz Abd. Rauf.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan berikan kritik dan sarannya,,^_^